Pages

Tampilkan postingan dengan label cerita inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 November 2010

Mempercepat Kesuksesan


Ada pepatah yang mengatakan “biar lambat asal selamat”. Pepatah ini ada benarnya jika tidak ada pilihan lain. Misalnya jika kita cepat maka akan celaka, maka lambat menjadi pilihan.

Namun, pepatah ini banyak yang salah mengartikannya. Masih banyak orang yang menganggap bahwa cara cepat adalah cara yang negatif. Sehingga mereka menolak untuk melakukan cara cepat dan tetap menggunakan yang lambat.

Memang, ada sesuatu yang harus dilakukan dengan lambat. Begitu juga, banyak hal akan lebih baik jika dilakukan dengan cepat. Kita harus cerdas, mana yang harus dilakukan dengan cepat dan mana yang harus dilakukan dengan lambat.

Mempercepat Sukses TIDAK Berarti Menghalalkan Segara Cara

Dari komentar yang saya dapatkan di facebook, masih ada orang yang berpikiran bahwa mempercepat meraih sukses dikaitkan dengan menghalalkan segala cara. Padahal sudah jelas saya katakan bahwa kita bisa mempercepat meraih sukses dengan menggunakan daya ungkit yang salah satunya adalah teknologi.

Saya menganalogikan bahwa naik sepeda lebih cepat dibandingkan dengan jalan kaki. Apakah naik sepeda itu tidak boleh? Jika naik sepeda membawa manfaat yang lebih besar bagi diri maupun bagi orang lain, maka naik sepeda menjadi sesuatu yang positif bahkan dianjurkan.

Intinya jika kecepatan membawa kebaikan, maka kecepatan itu adalah hal yang baik. Kemudian, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mempercepat meraih sukses dengan cara yang baik dan halal. Mempercepat TIDAK indetik dengan menghalalkan segala cara.

Kadang Cara Cepat Memerlukan Investasi

Ada yang bertanya, “Meskipun harus mengeluarkan biaya?” Saya jawab disini, “Ya, tentu saja.” Mengeluarkan biaya bukanlah sesuatu yang negatif. Sebab, saya melihat bahwa biaya tersebut adalah sebuah investasi dimana akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar.

Menenun kain bisa dilakukan secara manual, tetapi kenapa banyak pabrik yang membeli mesin tenun yang harganya sangat mahal? Sebab dengan mesin tenun mereka bisa mendapatkan kain lebih cepat dan lebih banyak sehingga keuntungannya pun lebih besar. Biaya yang dikeluarkan untuk investasi membeli mesin tenun bisa tergantikan.

Jadi, mengeluarkan biaya bisa menjadi suatu hal yang positif jika memberikan manfaat yang lebih besar. Tidak semua pengeluaran itu negatif.

Tidak Semua Cara Instan Itu Negatif

Kadang, ada juga yang mengatakan bahwa semua yang instan-instan itu tidak baik. Sebenarnya kita tidak bisa mengatakan seperti itu, kita tidak bisa menjeneralisir semuanya sama. Sekai lagi, kita harus objektif pada masalahnya. Jika membawa kebaikan, mengapa kita harus menolak cara instan? Memang, cara instan ada yang membawa kepada keburukan tetapi ada juga yang membawa kepada kebaikan. Kita harus lebih bijak dan cerdas dalam menilainya.

Misalnya, saat Anda dihadapkan pada pekerjaan yang sedang menumpuk dan mendekati deadline, namum motivasi Anda sedang turun. Apakah Anda menunggu 1 minggu dulu sampai motivasi Anda naik? Jika Anda bisa membangkitkan motivasi secara instan kemudian bisa langsung bekerja lagi secara produktif, bukankah ini hal yang positif?

Bukalah Pikiran Kita

Mulai sekarang, bukalah pikiran kita untuk menemukan cara-cara yang mudah dan cepat tetapi tetap halal dan membawa kepada kebaikan. Jika Anda tidak tahu ilmunya maka itu artinya Anda harus belajar. Sederhana: jika tidak tahu, yang belajar.

Saat kita mulai terbuka bahwa ada cara-cara cepat yang positif, maka kita akan menemukannya. Setelah Anda menemukan cara tersebut, maka lakukanlah sepanjang tidak dosa. Maka Anda bisa mempercepat meraih sukses.

Bagaimana Cara Mempercepat Meraih Sukses?

Kuncinya adalah ilmu. Kadang banyak hal yang sebenarnya sederhana dan bisa kita lakukan, tetapi karena tidak tahu ilmunya maka kita tidak akan bisa melakukannya. Tentu saja harus praktek setelah memiliki ilmunya. Praktek dengan ilmu jauh lebih baik dibandingkan dengan praktek tanpa ilmu.

Apa saja ilmu yang diperlukan untuk mempercepat sukses?

Yang pertama ialah ilmu tentang penggunaan waktu. Bagaimana Anda mengatur aktivitas Anda sebaik mungkin sehingga bisa sangat produktif dan efektif. Kuncinya ialah bagaimana Anda mengatur apa saja yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Lebih detilnya bisa Anda pelajari di ebook Revolusi Waktu.

Yang kedua adalah daya ungkit. Naik sepeda bisa lebih cepat dibandingkan dengan jalan kaki, padahal menggunakan sumber tenaga yang sama yaitu kaki Anda. Sepeda adalah daya ungkit. Tapi bukan hanya sepeda, daya ungkit itu banyak, hanya saja banyak orang yang mengabaikannya karena tidak sadar. Silahkan pelajari selengkapnya di ebook Daya Ungkit.

Yang ketiga adalah energi. Sepeda memang lebih cepat dibandingkan jalan kaki, tetapi sepeda motor lebih cepat dibandingkan sepeda. Kenapa? Ya, karena ada tambahan energi selain energi dari tubuh kita.

Lalu apa bahan bakar kehidupan kita? Bahan bakar itu adalah motivasi. Jika Anda ingin bergerak lebih cepat dan lebih produktif, maka Anda perlu memiliki motivasi yang tinggi. Silahkan baca artikel-artikel di situs ini untuk mendapatkan suntikan motivasi. Atau silahkan juga pelajari teknik-teknik instan membangkitkan motivasi di video Instant Motivation Weapon.

Jadi, Anda bisa mempercepat meraih sukses dengan cara yang baik. Jika tidak bisa, maka waktunya Anda untuk belajar bagaimana cara mempercepat meraih sukses tanpa melakukan sesuatu yang tidak baik, sebab yang baik pun masih banyak.

Sumber: motivasi islami

Tak ada yang mustahil

SekolahAku adalah seorang mahasiswa Indonesia yang bersekolah di Universitas California. Beberapa waktu lalu, aku pernah menulis surat yang berisi cerita cerita terima kasih kepada orang tua ku, dan ketika aku memutuskan untuk memperlihatkannya pada dunia, ternyata cerita inspirasi tersebut mendapatkan tanggapan yang luar biasa dari orang-orang di Eropa, India, Singapura, Amerika, dan Indonesia. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih atas semua respon yang aku dapat atas surat tersebut.

———————————————————-

30 April 2010.

Setelah penantian yang panjang dan mendebarkan, akhirnya kelulusan itu pun diumumkan. Aku diterima di Haas School of Business, University of California Berkeley. Hal ini sebuah pencapaian dan kebanggaan yang luar biasa bagiku dan juga kedua orang tuaku, pencapaian ini adalah hasil kerja keras yang telah aku lakukan selama 2 tahun terakhir ini.

5 tahun yang lalu, tidak seorang pun, bahkan tidak juga orang tuaku, guru-guru dan teman-temanku yang berpikir bahwa aku dapat masuk ke dalam salah satu dari 10 sekolah bisnis terbaik di Amerika, apalagi Berkeley Haas School of Business. Saat ini, sekolah ini menduduki peringkat ke-2 di Amerika berdasarkan Best Colleges Specialty Rankings: Best Undergraduate Business Programs.

5 Tahun lalu, “Nilai A” hanyalah sebuah mimpi bagi anak sekolah biasa seperti aku. Sebagian besar nilai-nilaiku di sekolah adalah C, diikuti dengan B kecil, dan D. Cara belajar ku sangat kacau. Di sekolah menengah, aku hanya menempati peringkat 186 dari 198 siswa. Yang berarti aku masuk 10% peringkat terbawah dari seluruh sekolah.

Beruntungnya, aku punya orang tua yang mampu menginspirasi dan mengubahku. Aku masih dapat mengingat dengan jelas kejadian di malam itu. Waktu itu, aku pulang ke Indonesia dan berada di kamar orang tuaku. Kedua orang tuaku duduk di tepi tempat tidur dan aku duduk di lantai. Mereka benar-benar terlihat kecewa. Malam itu, mereka mulai membuatku berpikir mengenai apa yang aku inginkan bagi masa depanku. Mereka tidak memarahiku, tidak berteriak kepadaku, dan juga tidak memukulku. Mereka hanya memperlihatkan kekecewaan atas buruknya prestasiku di sekolah.

Bagi orang tuaku, pendidikan sangatlah penting demi masa depan. Sebagai orang tua, mereka telah terus-menerus memperingatkan aku untuk belajar. Tetapi, jarak telah memisahkan kami - aku tinggal di Singapura bersama kakak-kakakku, sedangkan orang tuaku tinggal di Indonesia untuk menjalankan bisnisnya. Hal ini tentu saja membuat kedua orang tuaku kesulitan untuk mengawasi kami.

Dengan komunikasi yang hanya melalui telepon dan sms, tentu sulit bagi kedua orang tuaku untuk mengetahui apakah aku “benar-benar belajar” jika aku berkata sedang “belajar”. Sulit bagi mereka untuk mengetahui bahwa “benar-benar tidak ada ujian” jika aku bilang “tidak ada ujian”, dan apakah aku benar-benar “tidak sedang main game” jika aku bersikeras berkata tidak sedang bermain game komputer. Mereka benar-benar tidak tahu cara belajar yang aku terapkan.

Aku kembali ke kamarku dan mulai membayangkan hidup seperti apa yang telah aku jalani. Lalu aku teringat Jerry, kakak tertuaku yang sekitar 20 tahun lalu menderita kanker. Ia masih sangat kecil waktu itu, usianya baru 2 tahun. Sayangnya, saat itu kedua orang tuaku tidak berkecukupan. Maka demi kelangsungan hidup kakakku, kedua orangtuaku menjual rumah, mobil dan segala yang mereka miliki untuk biaya berobat Jerry. Bahkan, setelah mengusahakan segala upaya dan telah kehilangan banyak harta benda, orang tuaku pun masih harus menghadapi kenyataan hilangnya anak pertama mereka.

Tetapi hal itu tidak pernah membuat kedua orang tuaku menyerah. Mereka memang pernah mengalami masa-masa hancur dan sedih. Dan, yang menakjubkan adalah mereka mampu kembali percaya diri, tekun, dan optimis memulai hidup baru.

Ayahku adalah seorang lulusan MBA dan ibuku bergelar sarjana. Tetapi mereka pernah menjadi pengangguran dan miskin. Mereka harus mau berjalan jauh untuk menjual teh botol dan makanan kecil di pasar demi memenuhi kebutuhan hidup. Tidak lama kemudian, mereka mulai membuka warung makan dan tetap yakin bahwa mereka akan mendapatkan masa depan yang lebih cerah.

Kini, setelah bertahun-tahun, akhirnya mereka memiliki bisnis yang sukses dan mampu mengirim ketiga anak mereka ke Amerika untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Jika saja saat itu orang tuaku mengakui kekalahan mereka dan menyerah, tentunya saat ini aku tidak akan mempunyai kesempatan untuk kuliah, atau tinggal dibawah atap rumah yang terbuat dari batu bata, atau memiliki sebuah mobil untuk dikendarai.

Jika saja orang tuaku menyerah, aku pasti akan tinggal di jalan dan mencari-cari cara untuk tetap bertahan hidup seperti pemandangan khas yang sering ditemui di jalanan kota-kota besar di Indonesia. Pada saat kakakku Jerry meninggal, mereka hampir tidak memiliki apapun, tidak ada uang, mobil, ataupun rumah. Tidak satu pun! Kecuali semangat dan dorongan untuk berubah.

Ayah… ibu… jika bukan karena kalian berdua yang mengubah hidup anakmu, mungkin aku tidak akan pernah mempunyai kesempatan hidup berkecukupan. Sekarang, aku tidak perlu lagi berpikir tentang makanan, bahkan orang tuaku memberikan sebuah mobil dan menyediakan pendidikan terbaik untukku.

Inilah yang menjadi alasan mengapa sekitar 3 tahun setelah aku berada di peringkat 10% terbawah di sekolah menengah, aku datang ke perguruan tinggi di Amerika dengan prinsip bahwa tidak ada hal yang mustahil. Memang,“tidak ada hal yang mustahil” adalah kata-lata yang usang, namun jika mengingat cerita orang tuaku yang berhasil bangkit setelah keterpurukan, maka kata-kata itu bisa dipercaya. Aku mulai mengubah diri dan mempunyai satu tujuan agar dapat diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepada orang tua.

Aku sama sekali tidak gentar walau hanya 6,8% dari pendaftar yang akan diterima menjadi anak sekolah di Haas School of Business, dan keinginan yang luar biasa untuk sukses menjadi salah satu faktor yang membuatku menjadi satu dari tujuh orang yang diterima untuk setiap 100 orang pendaftar.

Dan sekarang aku ingin mendedikasikan pengakuanku ini kepada orang tuaku. Orang tua yang paling hebat yang telah mengubah hidupku. Aku tidak tahu akan menjadi apa jika tanpa mereka berdua. Terima kasih Ayah. Terima kasih Ibu. Aku berhutang sangat banyak kepada kalian dan aku tidak dapat membayangkan apakah aku mampu untuk membalasnya.

Kepada para sahabat yang sedang membaca CeritaInspirasi.net , ingatlah bahwa keadaan yang kita miliki sekarang tidaklah mencerminkan apa yang akan terjadi di masa depan. Seperti yang terjadi pada diriku. Aku mampu menjadi salah satu yang terbaik walaupun aku pernah berada di peringkat terbawah. Aku yakin, semua itu membutuhkan dorongan dan ketekunan, sama seperti seorang yatim piatu yang kukenal – yang berhasil menduduki peringkat 5% teratas dari kelasnya, padahal ia tidak memiliki meja atau kursi, atau bahkan kebutuhan sekolah yang memadai. Ia hanya memiliki semangat yang membara untuk mengubah masa depannya.

Berjanjilah kepada diri sendiri untuk mendapatkan masa depan yang lebih cerah!

Sumber: Cerita inspirasi

Diberdayakan oleh Blogger.